Telusuri

Memuat...

Bergelora di Gelora (Lanjutan dari Perjuangan Menjadi "The Thirteenth Pharmacist")


i am a shadow. i have no name
(Tenchu 2 : Birth of The Stealth Assasins)

Pagi itu Gelora tampak ramai meski tak ada pertandingan yg dijadwalkan. Ribuan orang, 890 orang di antaranya bergelar apoteker, berdatangan dengan berbagai motivasi dan latar belakang. Duduk manis di antara angkatan yg lebih muda, saya merasa sedikit lebih tua dewasa. Walau semalam sebelumnya didera sakit kepala yg menyiksa tapi cukup teringankan hiburan jenaka opera mini van java sehingga soal-soal yg menyamar seakan tak ada jawabannya, meski sebenarnya persoalan sederhana, yg sebelumnya tak mudah bagiku akhirnya dapat pula kutemukan jawabnya.


Selepas dari istora, langsung menuju rumah melepas lelah. Melamun di bis sambil mengingat-ingat dan memilah milih fragmen kisah yg mana yg dpt diambil teladan dari cerita sehari-hari yg wajar, ketika memecahkan gelas ukur, dan keesokannya ada yg tertabrak mobil, lalu tersadar bahwa mungkin kali ini rasanya tak perlu membagi kisahku yg tak ada yg mengerti.

Termarjinalkan. Terabaikan. Dari kumpulannya terbuang lalu satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh. Dihantam kegagalan demi kegagalan, lalu bertanya mengapa mesti aku?
Seakan terlupa akan sekian berkat yg diterima. Seexa nikmat yg melimpahi sekelilingnya.
Fabiayyii alaa i rabbikuma tukadzibaan.

Ternyata Axl Rose benar sewaktu melantunkan November Rain, pas masuk November kemarin hujan turun tepat jam 12. Dari siang mulut berasa pengen makan terus. Apa aja dimakan, roti, gorengan, minuman, hingga mie rebus 2 bungkus sambil menikmati dongeng Prison Break di televisi. Besoknya menunggangi kuda besi dari negeri sakura menyusuri jalanan antara Karawang Bekasi. B4M. Selepas itu, mampir ke toko buku. Jadi kabita pingin belanja, tapi dompet saya bilang, anggaran beli buku baru belum cair. Jadinya cuma lihat-lihat saja buku-buku yang menggoda. Ada Simfoni Inovasi yg ternyata mahal juga kalau beli (untung dapat gratisan). Dan Dan Brown (one of my favorite author) The Lost Symbol yang harganya bisa buat kantongku jebol. Setelah berhasil mengendalikan diri, akhirnya memutuskan untuk pulang sebelum malam hari menjelang. Kembali mengendarai si kuda besi sembari merasa serupa setahun kemarin, bahwa mimpi memang bisa mewujud nyata. Asalkan tetap percaya dan tetap berusaha.

Teruntuk Dosen-dosen Farmasi

Habis mampir lagi ke kampus setelah sekian lama, jadi keingetan masa-masa kuliah. Dan salah satu sosok-sosok yang tak lepas dari ingatan adalah para dosen.

Yang entah bagaimana telah 'menggerus otak saya hingga homogen' dengan mortir ilmu. Sehingga saya mampu mengikat bundelan ilmu farmasi seperti ikatan hidrogen yang sedemikian kuat hingga ilmu tersebut tak mudah menguap seperti etanol jika diteteskan pada epidermis. Sosok yang menjaga saya dari kontaminasi masa muda, 'merebus saya di otoklaf' untuk memastikan tak ada bakteri atau kuman mencemari jiwa saya. Mengekstraksi yang terbaik dari diri saya dan mengemasnya secara lege artis. Mengajari bagaimana mengeja Dragendorf, Bouchardat, Gevarlijk hingga Warschuwing. 'Menyonde saya' sehingga tak pingsan dulu sebelum menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Tak lupa memastikan kualitas saya tak jauh beda dengan kawan-kawan satu batch tahun ajaran kecuali dalam batas toleransi. Mengingatkan saya untuk berparadigma 'Profit oriented tapi dengan etika' dan seterusnya dan seterusnya. Menunjukkan bahwa ketika melakukan pemodelan molekul, struktur paling stabil akan didapat ketika struktur hanya memerlukan energi minimal. Mengajari saya berfikir dengan logic thinking untuk meningkatkan Quality of Life saya. Di antara Gedung, Peralatan, Sanitasi dan Higienitas serta Inspeksi Diri yang membuat saya aritmia, bradikardi dan takikardi sekaligus.



Kini setelah belajar mentransfer ilmu, saya sadar tak mudah untuk memahami sesuatu, dan membuat orang lain paham itu persoalan yang lain lagi. Betapa melelahkan untuk terus mengikuti perkembangan ilmu sehingga harus begadang malam sebelumnya mempersiapkan diri. Meski saya tak habis mengerti mengapa meski soal ujian tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya sehingga divisi akademik organisasi mahasiswa bisa membuat bank soal, kami dulu masih saja menengok kiri dan atau kanan mencari sekilas petunjuk jawaban.

Akhirnya meski cuma sespora, tulisan ini hanya sebentuk tanda cinta, dari seorang (mantan) mahasiswa yang biasa-biasa saja.

*Koreksi dari seorang dosen : "Sebenarnya ikatan hidrogen itu bukan ikatan yang kuat [kekuatan ikatannya 1-5 kkal/mol], yang paling kuat adalah ikatan kovalen [33-200 kkal/mol]..."

Tanggapan dari seorang dosen : "seperti sepetak sawah, kusemain dengan benih terbaik. kutaburi pupuk organik, kuairi tidak kurang dan tidak lebih, kubersihkan dari gulma pengganggu, kujaga dari hama perusak, bahkan dari burung pipit lapar. Dan.., ini rahasia kami saja, doa senantiasa kami panjatkan, agar segalanya berjalan sesuai harapan.

Tumbuhlah ... kalian, jadilah padi-padi terbaik, makin berisi makin merunduk. emaskanlah hatimu, seperti warna padi yang siap panen, menjadi manfaat bagi orang banyak."

Perjuangan Menjadi "The Thirteenth Pharmacist"

Hari pertama perjalanan ke kampus farmasi tersayang. Tiba sekitar pukul 8. Suasana Jatinangor telah cukup banyak berubah. Gerbang kampus pun dipindah tak lagi di tempat sebelumnya.



Memasuki gerbang kampus, berpapasan dengan dua gadis berbaju kurung, dari arahnya datang, bisa ditebak kuliah di fakultas apa. Lewat di FK dan FKG, terlintas ciri khas mahasiswa-mahasiswi kedok, baik kedokteran atau pun kedokteran gigi. Farmasi bawah, Pakilun MIPA, melewati Geologi, Kimia Sudah Dekat.

Saat tiba di gedung D6 sedang jadwalnya UTS jadi sepi deh. Masuk ke ruang TU, ada dua professor sedang mengobrol, langsung saja menuju A Tedi. Tak perlu menunggu lama, urusan pun selesai. Jadi jalan-jalan sebentar melihat-lihat kampus. Wah, Matematika dan Statistika sudah punya gedung sendiri. Berkeliaran di lantai 2 dan 3 D6, mengurai nostalgia di antara ruang kuliah dan laboratorium. Lab TI, haha.. ketika pernah iseng meng-copy daftar nilai seluruh angkatan, serta mengintip nilai praktikum fitokimia sebelum resmi dikeluarkan. Menyeruaklah kenangan-kenangan itu sembari melanjutkan perjalanan pulang turun gunung. Menebar pandang ke segala sudut kampus penuh kenangan. Wah Masjid Nurul Ilmi tampilannya beda lho. Lapangan dekanat MIPA, sudut kecil di Fasa, Masjid Fisip, dan yang tak boleh tertinggal, the legendary Tanjakan Cinta.



Sebelum pulang mampir ke mallnya Jatinangor. Bookshopping therapy. Nemu bukunya si Ikal Andrea Hirata, The Science of Business. Fiuuh, jadi sempat bertanya-tanya, ini orang yang sama yang nulis Laskar Pelangi sama Sang Pemimpi? Banyak novel, kayanya novel lagi booming sekarang. Jadinya beli Torey Hayden.
Mampir juga di Masjid IPDN. Tak lama menunggangi Elang untuk berhenti di Leuwipanjang. Pulang.

Lalu Teman Sejati maksudnya apa?
Maksudnya adalah "Tebar Cahaya Iman Sejukkan Jatinangor" Setuju?

Hari kedua

Setelah sukses mencairkan honor tulisan yang nyaris hangus, saya bergegas bergabung dengan Warga menuju kota. Perjalanan di bis kota sedikit banyak menggoreskan serpihan sesal di hati karena meninggalkan jadwal di High School Pharmacy. Tapi bagaimana lagi, hidup adalah pilihan. Lagipula manusia bukan amuba yang bisa membelah dirinya menjadi dua. Memilihlah, dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Bertemu kenek bis yang membuat saya terkesan karena ia mengembalikan uang saya yang katanya kelebihan. Uang ongkos yang mestinya cuma dua ribu, saya beri tiga ribu. Lalu ia mengembalikan seribunya. Wew.. jarang-jarang kan ada kenek kayak gini. Dulu bahkan pernah (sering deh) ongkosnya dimahal-mahalin. Lha ini, cuma kelebihan seribu dibalikin. Bagaimana tidak membuat saya bertanya-tanya.

Sampai di tujuan, ketemu dua adik kelas. Bobi dan seorang lagi yang cuma kenal mukanya. Belakangan saya tahu namanya Ana, entah apa nama panjangnya, yang jelas bukan Anna Althafunnisa atau aaaannnnaaaa. Berbincang sambil menunggu giliran. Sedikit banyak menyinggung soal idealisme. Iya sih, idealisme tidak bisa dimakan. Jadi buat apa coba idealisme dipertahankan? Meski idealnya tidak seperti itu, tapi toh dunia berjalan dengan caranya sendiri. Seperti kata Ceu line Dion, That's The Way It Is. Itulah sebagaimana mestinya. You may not like it, but that is the way it is. Fiuuh.. whatever lahm yang jelas saat ini mesti mencari kekuatan untuk melebihi 50 orang.

Btw, Hari ini Hari Blogger Nasional, sudahkah mampir ke blog saya?
Hmm... Tulisan kaya gini dibilang menginspirasi?

Nantikan episode selanjutnya dari Perjuangan Menjadi "The Thirteenth Pharmacist"

Dunia Cinta Indonesia

Sedikit geleng-geleng kepala ketika beberapa waktu lalu mendapati karya Peter Fennema yang direkomendasikan teman-teman di FB. Wow, ada bule yang ngefans sama lagu-lagu Indonesia dan mahir membawakannya pula. Pelafalannya pun nyaris seperti orang Indonesia sendiri. Keren lah. Dari situsnya Peter, nemu juga situs ini, yang akhirnya merujuk ke situs ini. Sebagian dari tanda cinta warga negara lain pada Indonesia.

Bukankah mencerahkan? Ketika mengetahui bahwa di muka bumi ini ada warga negara lain yang memiliki ketertarikan bahkan mencintai Indonesia sedemikian rupa.
Jika warga dunia mencintai Indonesia, adakah alasan untuk warganya sendiri untuk tidak mencintainya pula?



Lalu bagaimana cara anda menunjukkan atau membuktikan cinta pada Indonesia? 

Kulihat Ibu Pertiwi
sedang bersusah hati
air matanya berlinang

Klaim Budaya, Hak Cipta dan Plagiarisme

Pada tanggal 2 Oktober 2009 UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) akan menetapkan batik sebagai warisan budaya dari Indonesia (the world cultural heritage of humanity from Indonesia). 
Unesco mengakui bahwa batik sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan oleh Indonesia. Menurut Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, sebagai warga Indonesia, masyarakat Jabar sangat pro batik dan sudah tentu mendukung seni batik sebagai bagian dari budaya, khususnya dalam berbusana karena batik merupakan warisan budaya asli Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan. (okezone.com)
Pengakuan UNESCO ini semestinya merupakan langkah berkelanjutan dari pemerintah dalam upaya melindungi warisan budaya bangsa. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa sejak 2003 kebudayaan Indonesia telah diakui oleh UNESCO dengan diraihnya sertifikat wayang sebagai warisan budaya tak benda dan keris sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Selanjutnya, pemerintah terus memperjuangkan satu per satu karya budaya dengan menominasikan angklung sebagai warisan budaya dari Indonesia. (Antara).

Antara Indonesia dan Malaysia
Pertengahan November 2008 lalu, saya sempat terlibat dalam sebuah kegiatan akademis di sebuah kampus swasta di Malaysia. Sehingga sedikit banyak menjadi bagian dari denyut kehidupan di sana, khususnya di Kuala Lumpur.

Sebagai negeri tetangga satu rumpun, suasana di Indonesia dan Malaysia tak banyak berbeda, selain pada beberapa hal saja. Dengan jumlah penduduk hanya sepersepuluh penduduk Indonesia, Malaysia cukup leluasa mengatur kekayaan negaranya untuk kesejahteraan rakyat. Infrastruktur kota seperti jalan raya dan trotoarnya terbilang nyaman, lebar trotoar di sini bahkan bisa nyaris sama dengan lebar jalannya sendiri yang menunjukkan bahwa kenyamanan pejalan kaki begitu diperhatikan. Selain itu, nyaris di setiap kedai atau toko, selalu terdapat bendera negara. Seakan ingin mengingatkan setiap pengunjung sedang berada di mana. Bagaimanapun, negara satu rumpun yang merdeka pada bulan yang sama, hubungan Indonesia Malaysia sering mengalami pasang surut.
Isu klaim budaya ini mengemuka di antara kasus-kasus lain seperti penganiyayaan TKI dan pelanggaran batas wilayah. Sebenarnya agak rumit menyikapi persoalan klaim budaya ini, karena terdapat kemungkinan tumpang tindih antara budaya Malaysia dan Indonesia, yang memang berasal dari satu rumpun. Belum lagi jika mengingat bahwa terdapat cukup banyak keturunan Melayu di Malaysia yang merupakan keturunan orang Indonesia, baik dari suku Aceh, Padang, Sumatera Utara, Jambi, Palembang, Jawa, Madura, Bugis dan sebagainya.

Negara Pembajak?
Peribahasa mengatakan "Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak". Nasihat ini mengajari kita bahwa sebelum menuding keburukan orang lain, tengoklah sejenak wajah sendiri. Sebelum menuding memaki, sejenak lihat sekeliling, adakah keburukan yang sama dalam diri? Apakah Indonesia bukan Negara pembajak?
Studi IDC (International Data Corporation) menyebutkan bahwa tingkat pembajakan perangkat lunak di Indonesia sebesar 85% dengan potensi kerugian sebesar US$ 544 juta pada 2008. 'Prestasi' ini mengantarkan Indonesia pada posisi 12 dari 110 negara yang melakukan pembajakan di dunia (www.wartaekonomi.co.id). Amerika Serikat bahkan menempatkan Indonesia dalam daftar hitam pelanggar Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) pada kategori ‘Priority Watch List’. Lembaga US Trade Representative (USTR) merilis laporan tersebut dalam tajuk ‘Special 301′ seperti dikutip detikINET (Mei, 2009).
Dan kita tentu tahu, bukan cuma perangkat lunak, tapi produk kreasi budaya seperti musik dan film tidak lepas dari pembajakan di negeri ini. Fenomena seperti ini telah berulang kali dikeluhkan oleh para pelaku seni di negeri kita. Menurut www.majalahtrust.com, sampai tahun 2003 saja, peredaran produk bajakan menyebabkan kerugian negara dari sektor pajak mencapai Rp 1,189 triliun dan kerugian industri rekaman bahkan sampai Rp 16 triliun. 
Seperti dilansir di portal berita Kompas.com pada tanggal 20 Agustus 2009, Data Departemen Perindustrian menunjukkan bahwa, 70 persen dari 32 produsen cakram optik yang beroperasi di dalam negeri, 22 di antaranya melakukan usaha pembajakan dengan jumlah produksi mencapai 365,76 juta keping di tahun ini.
Terdapat perbedaan antara karya seni budaya dengan karya cipta yang bersifat pembaruan teknologi. Secara terminologi, paten merupakan klaim terhadap pembaruan teknologi dan sebenarnya bukanlah hak untuk menggunakan suatu karya cipta, melainkan lebih pada hak untuk mengecualikan pihak lain untuk memanfaatkan karya cipta tersebut.
Menurut Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, tidak ada paten untuk seni budaya. Karena jika masa berlaku paten suatu seni budaya telah habis, maka seni budaya tersebut dapat diklaim oleh siapa saja.

Bangsa yang Kreatif?
Tersinggungnya kita ketika ada pihak yang mengambil kekayaan budaya semestinya juga menyadarkan kita bahwa pengambilan hak cipta semena-mena itu menyakitkan. Bentuk penganiyayaan hak cipta ini wujudnya dapat bermacam-macam, salah satunya di bidang literasi adalah mengutip artikel seutuhnya tanpa mencantumkan penulis dan atau sumber. Sebagai bangsa yang kaya seni budaya, selayaknya kita memiliki kebanggaan dalam menciptakan konten yang baru dan segar dan bukan sekedar meniru atau bahkan menjiplak habis-habisan kreatifitas orang lain.
Apakah kita masih berani menyebut diri bangsa yang kreatif? Jika sempat berwisata ke toko-toko buku, berapa banyak judul atau desain sampul yang serupa dengan Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi ketika novel-novel tersebut sedang 'booming'? Ketika ada suatu acara televisi yang digemari, stasiun TV lain segera berlomba membuat acara serupa. Mengapa kita melakukan pembajakan? Bukankah nenek moyang kita seorang pelaut, bukan bajak laut? Jangan sampai ada yang melemparkan ke wajah kita, ucapan ‘maling teriak maling’. Bagaimana menurut anda?

Lucy Kecil yang Mengubah Dunia

Senin, tanggal 28 September 2009, pihak Rumah Sakit St Thomas, London mengumumkan secara resmi kematian Lucy Vodden, wanita yang menjadi inspirasi The Beatles dalam lagu mereka yang berjudul "Lucy in the Sky with Diamonds". Dua tahun lalu, Lucy mengungkapkan bahwa ia adalah sumber inspirasi lagu tersebut pada radio BBC.
Julian Lennon, anak John Lennon, adalah teman sekelas Lucy Vodden. Ketika itu Julian yang berusia 4 tahun, pulang dari sekolah dengan membawa gambar "Lucy in the Sky with Diamonds" dan menunjukkannya kepada ayahnya gambar tersebut.  John Lennon sendiri pada saat itu sedang dalam proses pembuatan lagu untuk album "Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band," album ke delapan The Beatles yang menurut banyak pengamat musik merupakan album pop paling berpengaruh sepanjang masa.
Banyak orang meyakini bahwa lagu yang menjadi hit pada tahun 1967 ini merupakan lagu pemujaan terselubung untuk LSD. John Lennon sendiri secara konsisten membantah dugaan tersebut dan menyatakan bahwa judul lagu itu terinspirasi dari Lucy Vodden, teman dari anaknnya. Demikian seperti diulas di www.snopes.com.


LSD, Obat Halusinasi
Judul lagu itu sendiri jika disingkat memang menjadi LSD (lysergic acid diethylamide). LSD merupakan sebuah obat halusinasi yang sempat populer di kalangan musisi seangkatan The Beatles dan turut serta memunculkan budaya psikedelik di tahun 1960-an.
Menurut Stephanie Murphy, peneliti dari Department English, College of Arts and Sciences, budaya psikedelik ini merupakan budaya tanding dari masa sebelumnya, yang berlandaskan pada sebuah konsep kebersamaan (peer togetherness) dan mendorong suatu bentuk aktivitas yang mencari makna kebebasan, termasuk dalam hal berfikir dan berekspresi. Dengan pengaruh halusinasinya, LSD mempengaruhi generasi psikedelik ini secara mental dan spiritual.
Artis Andy Warhol dan penulis Aldous Huxley serta Tom Wolfe mengakui bahwa karya-karya mereka dipengaruhi LSD. Sempat tercatat pula pengakuan beberapa musisi seperti Jimi Hendrix, The Doors, The Jefferson Airplane, dan The Grateful Dead, terkait pengaruh LSD pada karya-karya musik mereka. The Grateful Dead sendiri, yang pada awalnya bernama The Warlocks, mengeluarkan lagu-lagu hits dalam daftar tangga lagu saat itu.
LSD menjadi sangat terkenal pada periode 1964 sampai 1966, ketika industrialisasi, urbanisasi, dan mekanisasi sangat maju dan berkembang di Amerika. Seorang psikolog, Timothy Leary, bahkan menyerukan bahwa kedamaian dunia dapat terwujud hanya jika semua orang menggunakan obat-obatan. Timothy Leary juga mendalami relasi pengaruh pengkonsumsian LSD dengan agama serta mitologi budaya Timur.


Antara Anugerah dan Kutukan
Albert Hofmann, yang menemukan LSD pada 1938, mungkin salah satu orang yang dapat menyatakan klaim bahwa ia telah mengubah dunia. Secara langsung maupun tidak langsung, LSD berperan dalam proses penemuan-penemuan penting seperti tetikus komputer oleh Douglas Englebart ataupun struktur DNA oleh Francis Crick. Seperti diulas di Wired.com, pada sebuah konferensi pers, Hofmann mengungkapkan bahwa Kary Mullis menyatakan bahwa LSD membantunya mengembangkan teknik PCR (polymerase chain reaction). Teknik PCR ini berguna untuk membantu amplifikasi urutan DNA spesifik yang menjadi dasar analisis DNA forensik untuk mengenali identitas jenazah buronan polisi.
Berakhirnya paten LSD pada 1963 membuat LSD dapat dibuat secara bebas. Sebelum dinyatakan illegal pada 1966, banyak terapis memuji LSD sebagai obat ajaib untuk psikoterapi. Namun pada 16 Oktober 1966 di California, LSD dimasukkan ke dalam schedule-1 drug, yang dianggap tidak memiliki 'nilai medis atau ilmiah', meskipun terdapat lebih dari 1000 publikasi makalah ilmiah yang membahas penggunaan LSD pada lebih dari 40,000 pasien schizophrenia, depresi, alkoholisme dan penyakit lain. Hofmann sendiri adalah pemrotes keras pelarangan total LSD. Menurutnya “Untuk keperluan psikologis dan penelitian lebih lanjut, penggunaan LSD seharusnya dilegalkan”.
Hofmann meyakini bahwa LSD, adalah hal yang dapat menjembatani sekat yang berkembang antara dunia materi dan spiritual. “Aspek materi dari realitas bukanlah segalanya,” ujar Hofmann. “Adalah aspek spiritual yang sama pentingnya. Tapi di dunia kita yang rasional, orang-orang kehilangan kontak dengan realitas semacam itu.” “Sebagaimana kita memerlukan obat-obatan untuk mengatur bermacam sistem fisiologis kita, kita juga memerlukannya untuk merangsang perasaan religius pula.” ungkapnya suatu ketika. Hofmann kerap dilanda keraguan mengenai obat temuannya itu, apakah obat ini merupakan anugerah atau kutukan untuk umat manusia. Ia membandingkan LSD dengan temuannya yang lain, yakni Metergin, Dihidroergotamin, dan Hidergin, yang tak menimbulkan beragam masalah dan menjadi obat-obat yang berguna dalam terapi. Albert Hofmann meninggal dunia tahun lalu pada usia 102 tahun. Hofmann meninggal di kediamannya di Basel setelah menderita serangan jantung.
Pihak medis Swiss kini telah memberikan persetujuan pada dokter untuk melakukan pengujian psikoterapi yang dibantu LSD pada pasien yang menderita kanker stadium lanjut dan penyakit sejenisnya. Ini akan menjadi penelitian yang diakui pemerintah yang pertama sejak 35 tahun. Pengujian ini disponsori oleh Multidisciplinary Association for Psychedelic Studies (MAPS) dan menelan biaya sekitar $150,000.

My Life in Ramadlan 1430


Awal Ramadlan :
Tahun kemarin masih dapat banyak SMS 'Selamat Ramadlan', sekarang ucapannya lewat Facebook
Minggu pertama tarawih, tetangga sebelah rumah kemalingan. Motor, HP dsb. Pas baru pulang tarawih, pintu rumahnya dah terbuka lebar.
Puasa pertama kebanyakan tidur, sekarang terasa akibatnya
Kemarin puasa kebanyakan tidur, sekarang mesti kebanyakan ibadah. Bukankah tidur adalah ibadah? (goodluck)
I'm still young, that's my fault. There's so much i have to know.
Ternyata minum obat saat puasa Ndak Bisa Suka-suka
Memikirkan harapan paling besar dan paling berarti dalam hidupnya (thinking)
ingin
ikutan farmasi.ugm.ac.id/isapps tapiii..
Rizuki jadi Master di usia 16 tahun. Ingin ngambil Master juga, farmasi komunitas kali ya...8-)
bilang
Tahukah Anda bahwa Fajar Ramadhitya Putera lahir di bulan Ramadlan?

Rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba (29:41). So sorry spidey.
Apakah sinetron PPT mencerminkan negara ini? Pak RW = pemerintah, Udin Hansip = Militer, dsb.

Pengikut

Plurk